METROARTSCHOOL — Washington, DC – Presiden Donald Trump mengatakan dia telah mencapai kesepakatan dagang dengan Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr., setelah keduanya bertemu pada Selasa (22/7/2025) di Gedung Putih. Kesepakatan itu membuat Amerika Serikat (AS) menurunkan tarif untuk Filipina, tanpa membayar pajak impor atas barang yang dijualnya di sana.
Trump mengungkapkan garis besar kesepakatan tersebut melalui jejaring sosial miliknya dan mengatakan bahwa AS dan Filipina akan terus memperkuat kerja sama militer. Pengumuman rancangan kesepakatan awal yang belum memiliki rincian jelas ini datang ketika kedua negara tengah berupaya menjalin hubungan keamanan dan ekonomi yang lebih erat di tengah perubahan geopolitik di kawasan Indo-Pasifik.
Pemerintahan Marcos sebelumnya mengindikasikan bersedia menawarkan tarif nol untuk beberapa barang AS demi mencapai kesepakatan dengan Trump.
Kunjungan Marcos selama tiga hari ke Washington menegaskan pentingnya aliansi antara Filipina dan Amerika Serikat sebagai negara sekutu dalam perjanjian pertahanan, terutama di tengah meningkatnya agresivitas China di Laut China Selatan, tempat Manila dan Beijing kerap terlibat bentrokan terkait wilayah sengketa Scarborough Shoal.
Washington memandang Beijing—ekonomi terbesar kedua di dunia—sebagai pesaing terbesarnya dan pemerintahan AS berturut-turut telah berusaha mengalihkan fokus militer dan ekonomi AS ke kawasan Asia-Pasifik dalam upaya mengimbangi China.
Trump menulis di platform media sosial Truth Social bahwa AS akan menetapkan tarif sebesar 19 persen terhadap Filipina, turun dari tarif 20 persen yang dia ancam akan diberlakukan per 1 Agustus. Sebagai imbalannya, menurut dia, Filipina akan membuka pasarnya dan AS tidak akan membayar tarif.
Penurunan tarif dalam kesepakatan dagang antara AS dan Filipina mencerminkan angka yang sama dengan tarif baru yang berhasil dinegosiasikan Indonesia, yakni dari 32 persen menjadi 19 persen.
Tanpa rincian lebih lanjut mengenai kesepakatan tersebut, belum jelas bagaimana dampaknya terhadap perekonomian kedua negara.
Trump menyebutkan pula bahwa kunjungan Marcos adalah sesuatu yang “indah” dan merupakan “kehormatan besar” untuk menjamu seorang negosiator yang “sangat baik dan tangguh”.
Saat tampil di hadapan wartawan di Ruang Oval sebelum pertemuan empat mata mereka, Marcos menyampaikan hangatnya hubungan antara kedua negara.
“Ini telah berkembang menjadi hubungan yang sepenting mungkin,” kata Marcos seperti dilansir AP.
Saling Membela
Ketika ditanya bagaimana dia akan menyeimbangkan hubungan negaranya antara AS dan China, Marcos mengatakan tidak perlu ada penyeimbangan karena kebijakan luar negeri negaranya bersifat independen.
“Mitralah terkuat kami sejak dulu adalah AS,” kata Marcos, yang negaranya merupakan salah satu sekutu perjanjian AS tertua di kawasan Pasifik.
Marcos juga bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pekan ini. Di Pentagon pada Senin, Marcos mengatakan kepada Hegseth bahwa jaminan untuk saling membela “masih menjadi landasan utama hubungan kedua negara”.
Dia mengatakan kerja sama telah semakin dalam sejak kunjungan Hegseth ke Manila pada Maret, termasuk melalui latihan militer bersama dan dukungan AS dalam memodernisasi angkatan bersenjata Filipina. Marcos berterima kasih kepada AS atas dukungan yang dibutuhkan Filipina untuk menghadapi berbagai ancaman.
Saat menjamu Marcos, Trump menyatakan bahwa kunjungannya ke China tidak terlalu lama lagi. Trump memuji hubungan AS dan China, namun menegaskan bahwa Filipina memiliki kebebasan penuh dalam menjalin hubungan dengan China.
“Lakukan saja apa pun yang perlu Anda lakukan,” tutur Trump kepada Marcos. “Urusan Anda dengan China sama sekali tidak akan mengganggu saya.”